5 Indikasi Hemodialisis yang Patut Diketahui Pasien Penyakit Ginjal

Mengenali indikasi hemodialisa membantu pasien maupun petugas medis untuk mempertahankan fungsi ginjal agar bekerja normal seperti semula. Prosesnya yang disebut hemodialisis (cuci darah) dilakukan untuk mengeluarkan racun dan zat-zat berbahaya lain dari ginjal sebelum mengalami kerusakan kronis atau memicu kematian.

Pasien yang membutuhkan hemodialisis adalah mereka yang menderita Gagal Ginjal Akut (GGA) serta Gagal Ginjal Kronis (GGK). GGA merupakan penurunan fungsi ginjal secara akut dalam jangka waktu 3 bulan. Salah satunya adalah peningkatan nilai ureum dan kreatinin. Sementara GGK adalah gangguan fungsi ginjal progresif yang menyebabkan kegagalan tubuh dalam mempertahankan metabolisme serta keseimbangan elektrolit maupun cairan. Indikasi hemodialisis pada GGK adalah retensi urea dan jenis sampah lainnya dari dalam darah.

Seperti yang telah disinggung, baik GGA maupun GGK membutuhkan terapi cuci darah. Namun tindakan medis ini tidak dilakukan sembarangan. Pasalnya, pasien yang dirujuk harus memiliki sejumlah indikasi hemodialisa seperti:

Hiperkalemia 


Istilah ini merujuk pada tingginya kadar kalium darah (biasanya di asas 6 mEq/L). Sebagian besar kalium dalam tubuh manusia (98%) umumnya terdapat pada organ dan sel, tetapi sedikit dalam aliran darah. Jenis logam ini berperan sebagai penunjang fungsi sel-sel saraf, otot, hingga organ vital seperti jantung. Dalam hal ini, ginjal mempunyai tugas untuk mempertahankan kadar kalium dalam darah. Akan tetapi, pasien dengan hiperkalemia berpotensi lebih besar menderita penyakit ginjal.

Asidosis


Indikasi hemodialisa kreatinin selanjutnya adalah asidosis. Dalam keadaan normal, kedua ginjal Anda akan menyerap asam sisa metabolisme dari aliran darah untuk kemudian dibuang melalui urin. Namun, pada pasien asidosis, bagian ginjal bernama tubulus renalis tidak mampu berfungsi normal, sehingga hanya sedikit asam yang dibuang lewat urin. Akibatnya, ada peningkatan kadar keasaman yang dipicu penumpukan asam dalam darah.

Tingginya kadar ureum dan kreatinin


Uremia (peningkatan kadar urea) dibagi berdasarkan 3 penyebab, yakni prarenal, renal, dan pascarenal. Uremia prarenal umumnya dipicu kegagalan pada mekanisme sebelum filtrasi glomerulus. Mekanisme pada indikasi hemodialisa ini mencakup penurunan aliran darah ke ginjal dan peningkatan katabolisme protein pada pendarahan gastrointestinal.

Kemudian, uremia renal disebabkan gagal ginjal yang menyebabkan gangguan ekskresi pada urea. Dalam hal ini, glomerulonefritis, nekrosis korteks ginjal, hingga hipertensi maligna menjadi pemicu dari GGA. Lantas diaberus melitus, pielonefritis, arteriosklerosis, dan penyakit kolagen-vaskular berpotensi menjadi faktor penyebab GGK.

Perikarditis dan konfusi berat


Perikarditis menjadi indikasi dilakukan hemodialisa pada penderita gagal ginjal. Gangguan ini merupakan inflamasi atau peradangan lapisan terluar jantung, baik pada viseral maupun parietal. Lantas konfusi adalah keadaan saat seseorang mengalami atau berpotensi mengalami gangguan perhatian, orientasi, perhatian, hingga memori yang sumbernya tidak diketahui. Konfusi yang sudah memasuki level beratlah yang memperbesar peluang seseorang harus mendapatkan terapi cuci darah.

Hipertensi dan hiperkalsemia


Gangguan kesehatan terakhir yang dapat dijadikan indikasi hemodialisa adalah hiperkalsemia dan hipertensi. Jika hiperkalemia adalah kondisi tingginya kalium pada darah, maka hiperkalsemia terjadi saat kadar kalsium berada di atas batas normal. Akibatnya, penyerapan pada sistem cerna ikut meningkat gara-gara asupan kalsium berlebih. Konsumsi sumber vitamin D di atas dosis yang dianjurkan adalah salah satu pemicu hiperkalsemia. Sementara hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tensi hingga 140/90 mmHg.

Selain mengenali indikasi hemodialisa cito di atas, Anda juga perlu mengetahui kontra indikasi bagi para pasien yang hendak melakukan terapi cuci darah yang meliputi:

  • Malignansi stadium lanjut, kecuali untuk tipe multiple myeloma;
  • Penyakit Alzheimer yang menyerang sel-sel otak, sehingga sinyal-sinyal pada organ tersebut akan sulit ditransmisikan;
  • Multi-infarct dementia;
  • Sindrom hepatorenal yang biasanya dialami pasien penyakit hati kronis, kegagalan hati stadium lanjut, hingga hipertensi portal;
  • Sirosis hati tingkat lanjut yang disertai enselopati;
  • Tekanan darah rendah atau hipotensi dengan tensi di bawah 90/60 mmHg;
  • Penyakit terminal yang sulit disembuhkan seperti kanker stadium akhir;
  • Organic brain syndrome akibat gangguan fungsi maupun struktur otak.

Semoga informasi indikasi hemodialisa ini bermanfaat bagi Anda!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar