Cara kerja mesin cuci darah
Dialyzer yang kerap dijuluki juga sebagai gnjal buatan harus ditangani petugas medis yang mengetahui akses ke pembuluh darah. Biasanya mereka akan melakukan operasi kecil pada lengan untuk membuat ‘pintu masuk’ tersebut. Kemudian, dialyzer mempunyai satu bagian untuk darah pasien dan bagian lain untuk cairan cuci (dialisat). Ada pun membran tipis yang berperan sebagai pemisah dua bagian tersebut.
Pada proses hemodialisis, protein, sel darah, dan hal-hal penting yang dibutuhkan tubuh akan tetap ada di dalam darah. Ukurannya pun terlalu besar untuk melewati membran. Cara kerja hemodialisis adalah membuang produk-produk limbah yang lebih kecil sepert kreatinin, urea, dan cairan ekstra lainnya lewat membran. Pembersihan cairan atau perubahan dialisat dilaksanakan sesuai kebutuhan pasien.
Tahap-tahap hemodialisis dengan mesin
Berperan sebagai ginjal tiruan, dialyzer didesain dengan ribuan serat berongga kecil yang memungkinkan darah mengalir lewat serat tadi. Sementara itu, cairan dialisis akan mengalir di sekitar arah berlawanan. Serat-serat pada dialyzer ini yang berperan sebagai membran semi-permeabel. Dengan kata lain, hanya beberapa zat saja yang sanggup melewatinya, sementara sisanya tidak bisa.
Untuk lebih lengkapnya, berikut cara kerja hemodialisis lewat mesin.
- Darah dikeluarkan dari tubuh, lalu diedarkan dalam mesin yang membutuhkan akses keluar-masuk aliran darah. Fistula arteriovenosa (pembuatan jalur buatan antara pembuluh arteri dengan vena) dilakukan petugas medis lewat pembedahan. Selanjutnya, darah akan dialirkan lewat selang dari fistula dan dipompa ke mesin dialisis. Pasien pun akan diberikan Heparin—obat antibeku—yang akan mencegah pembekuan selama terapi cuci darah diterapkan. Sementara salah satu kompartemen dalam dialyzer yang dimanfaatkan selama proses tersebut akan mencatat sekaligus mengontrol temperatur, tekanan, serta kondisi aliran darah.
- Aliran darah akan masuk ke salah satu kompartemen dialyzer. Bagaimana dengan kompartemen lain ada dialyzer? Kompartemen tersebut akan dialiri dialisat. Zat-zat beracun, limbah, dan air dalam darah lantas berpindah lewat membran semi-permeabel yang diantarkan ke dialisat. Hal ini disebabkan ultrafiltrasi dan difusi yang berlangsung selama penyaringan darah. Ukuran molekul protein dan sel-sel darah relatif besar dibandingkan zat racun maupun limbah, sehingga tak mampu menembus membran semi-permeabel. Darah yang mengalami filerasi pun akan menjadi bersih, lalu dialirkan kembali ke dalam tubuh. Sementara dialisat yang notabene kotor akan dialirkan ke penampungan.
Apa saja yang terjadi dalam proses terapi cuci darah?
Proses yang terjadi dalam cara kerja hemodialisis mencakup:
Difusi
Secara garis besar, difusi merupakan proses berpindahnya zat dalam campuran dari bagian pekat ke bagian encer. Hal ini umumnya terjadi akibat perbedaan kadar zat terlarut dalam darah maupun dialisat selama terapi berlangsung. Selain limbah dan zat beracun, dialisat juga mengandung larutan garam hingga glukosa yang diperlukan tubuh. Difusi zat-zat ini bakal terjadi saat tubuh kekurangan asupan gara-gara hemodialisis.
Ultrafiltrasi
Ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya zat terlarut dan air yang dipicu perbedaan tekanan hidrostatis dalam dialisat maupun darah. Dalam hal ini, tekanan darah yang lebih tinggi pada dialisat akan memaksa air melewati membran semi-permeabel. Air notabene punya molekul sangat kecil, sehingga pergerakan cairan ini akan diikuti dengan sampah.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan hemodialisis?
Selain memahami cara kerja hemodialisis secara singkat, pasien yang membutuhkan terapi cuci darah pun perlu diberitahu seputar durasinya. Rata-rata waktu yang diperlukan setiap pasien yang menjalani hemodialisis adalah 9 sampai 12 jam dalam seminggu. Durasi tersebut dinilai mampu membersihkan dan menyaring darah secara maksimal. Selain itu, terapi juga akan dibagi jadi 3 kali pertemuan, yakni sekitar 3 sampai 5 jam tiap penyaringan atau sesuai tingkat kerusakan ginjal pasien yang bersangkutan.
Mudah-mudahan informasi cara kerja hemodialisis ini berfaedah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar