Resiko Cuci Darah Bagi Pasien Gagal Ginjal

Bagi penderita penyakit gagal ginjal, proses cuci darah merupakan peristiwa yang sangat penting untuk dilakukan. Cuci darah ini berguna sebagai pengganti fungsi ginjal untuk mengeluarkan ataupun membersihkan racun dari dalam tubuh. Sehingga peristiwa cuci darah sangat diperlukan untuk menunjang kesembuhan gagal ginjal.

Meskipun metode cuci darah terkenal sebagai cara yang paling ampuh untuk menyembuhkan gagal ginjal. Akan tetapi, banyak juga terdapat resiko cuci darah yang bisa anda alami. Sehingga anda harus melakukan dengan benar agar dapat menghindari resiko yang mungkin saja muncul dan menyerang anda kapan saja.

Pada dasarnya, cuci darah terbagi menjadi 2 teknik, yaitu hemodialisis dan teknik dialisis peritoneal. Sehingga masing masing dari metode ini memiliki resiko yang berbeda beda. Resiko cuci darah atau efek samping dari proses cuci sendiri merupakan salah satu sisi negatif yang mungkin saja dialami oleh setiap pasien gagal ginjal.

Efek Samping Dari Cuci Darah


Resiko cuci darah ginjal bagi pasien penyakit gagal ginjal merupakan hal yang lumrah terjadi. Dalam hal ini, pasien mestilah lebih waspada dan berjaga jaga agar tidak mengalami atau terserang penyakit berbahaya lainnya. Maka, metode yang paling tepat haruslah anda pilih bersama dokter yang anda percayakan.

Umumnya, teknik cuci darah hemodialisis adalah metode yang paling sering digunakan oleh kebanyakan pasien gagal ginjal. Bukan tanpa alasan, cara yang satu ini pasalnya jauh lebih efektif dan lebih mudah untuk diterapkan di rumah sakit. Namun, tetap saja metode ini juga memiliki kelemahan yang disebut sebagai efek samping. Berikut beberapa efek samping dengan melakukan cuci darah hemodialisis:

1. Tekanan Darah Yang Tidak Stabil


Resiko dari cuci darah dengan metode hemodialisis yang paling umum dijumpai adalah terjadinya penurunan pada tekanan darah. Kejadian ini biasanya sangat mudah terjadi bagi anda yang juga menderita penyakit diabetes. Bukan hanya gangguan pada tekanan darah yang kadang kadang bisa sangat tinggi atau sangat rendah. Akan tetapi, hemodialisis juga memiliki efek samping seperti susah bernapas, rasa kram pada bagian perut dan otot, hingga mual dan muntah.

2. Kurang Darah


Kurang darah atau yang lebih dikenal dengan sebutan anemia juga merupakan salah satu efek samping dari peristiwa cuci darah dengan teknik hemodialisis. Efek samping ini adalah resiko setelah cuci darah yang paling umum terjadi pada pasien gagal ginjal. Sehingga jangan heran jika anda akan merasakan pusing akibat kurang darah setelah proses cuci darah berlangsung.

3. Rasa Gatal Pada Bagian Kulit


Resiko atau efek samping selanjutnya yang mungkin saja anda alami adalah timbulnya rasa gatal gatal pada bagian kulit. Peristiwa ini disebabkan oleh penumpukan zat fosfor dari proses hemodialisis dapat mempengaruhi permukaan kulit di tubuh anda. Ini merupakan kondisi yang sangat umum terjadi pada setiap pasien gagal ginjal selama menjalankan proses cuci darah. Akan tetapi, anda dapat mengurangi kejadian ini dengan menjalankan pola hidup sehat dan menjaga asupan makanan yang anda konsumsi. Jika perlu, mungkin anda bisa mengkonsumsi jenis makanan khusus yang mampu mengikat zat fosfat sesuai dengan anjuran dokter.

4. Kram Pada Bagian Otot


Hal umum lain yang sering dialami sebagai efek samping dari proses hemodialisis sendiri adalah kram pada bagian otot. Untuk mengurangi rasa kram tersebut, anda dapat melakukan pemanasan lebih dulu atau mengkompres dengan uap hangat yang bisa membantu melancarkan sirkulasi darah.

5. Berat Badan Bertambah


Jika anda melalui proses cuci darah dengan metode dialisis peritoneal, maka sangat besar peluang bagi berat badan anda untuk bertambah. Hal ini disebabkan karena metode yang satu ini menggunakan cairan khusus yang mengandung gula untuk proses penyembuhan. Sehingga kadar gula bertambah dalam tubuh anda dan berat badan pun jadi meningkat.

Ke dua metode, baik hemodialisis maupun dialisis peritoneal, masing masing memiliki tujuan yang sama yakni menyembuhkan gagal ginjal. Namun, kebaikan dari kedua teknik ini akan menjadi sangat berbahaya jika anda berhenti melakukan terapi selama belum sembuh. Sehingga resiko berhenti cuci darah cenderung lebih besar untuk anda alami.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar