Efek Samping Hemodialisis Berdasarkan Metodenya

Mengantisipasi efek samping hemodialisis membantu pasien penyakit ginjal atau gagal ginjal untuk menghadapi risiko selepas terapi. Cuci darah atau dialisis umumnya diterapkan untuk ‘mencuci’ darah yang mengandung zat-zat berbahaya yang tak bisa disaring ginjal karena performanya turun drastis. Muntah-muntah, lemas, gatal pada kulit, kaki/lengan bengkak, dan koma adalah sebagian tanda-tanda kerusakan pada ginjal yang harus Anda waspadai.

Berdasarkan jenisnya, efek samping cuci darah dibagi menjadi dua, antara lain:

Dialisis peritoneal


Prosedur terapi ini memanfaatkan jaringan dari rongga perut pasien. Akan ada selang yang dipasang pada perut untuk mengalirkan cairan dialisis yang berfungsi memindahkan sisa-sisa metabolisme. Cuci darah dengan teknik ini memakan waktu 30-40 menit, tetapi pasien yang bersangkutan harus mengulang tahapnya empat kali sehari.

Sejumlah efek samping hemodialisa pdf yang akan dialami pasien mencakup:

  • Peritonitis. Dampak ini merupakan infeksi yang terjadi pada peritoneum, bagian tubuh yang dipakai sebagai tempat menyaring darah. Penyebabnya dapat dipicu peralatan tak steril. Beberapa gejala yang dapat dikenali dari peritonitis di antaranya demam tinggi, muntah, hingga sakit di bagian perut.
  • Hernia. Bagian tubuh atau jaringan yang menonjol setelah pasien menjalankan dialisis peritoneal biasanya dipicu penumpukan cairan yang sangat lama padarongga peritoneal. Akibatnya, muncul ketegangan pada otot perut yang memicu hernia.
  • Kenaikan berat badan. Efek samping hemodialisa pada metode dialisis peritoneal adalah naiknya berat badan. Hal ini disebabkan tingginya glukosa yang terkandung dalam cairan dialisis. Maka tak heran kalau beberapa pasien yang menjalani terapi ini mengalami peningkatan bobot pada tubuhnya.


Hemodialisis


Jika dialisis peritoneal menggunakan jaringan rongga perut, maka hemodialisis mengandalkan mesin untuk menyaring darah kotor. Pasien akan diberikan jarum yang dimasukkan ke pembuluh darah, lantas nantinya disambungkan ke mesin lewat selang. Darah yang ditansfer ke mesin akan dibersihkan, lalu dikembalikan ke dalam tubuh. Hemodialisis memakan waktu 4 jam per sesi dan harus dilakukan 3 kali per minggu.

Beberapa efek samping hemodialisis yang dialami pasien mencakup:

  • Hipotensi. Dikenal juga sebagai tekanan darah rendah, dampak ini disebabkan berkurangnya cairan tubuh akibat terapi. Pusing, mual, dan sakit kepala adalah sejumlah tanda yang bisa dikenali;
  • Infeksi staphylococcal. Bakteri Staphylococcal adalah sejenis bakteri yang berpotensi memicu infeksi ada pasien yang menjalani hemodialisis dan umumnya menyerang kulit;
  • Sepsis. Gangguan ini merupakan infeksi Staphylococcal tingkat lanjut yang menjalar ke organ-organ lain. Sepsis pun disebut juga sebagai blood poisoning atau keracunan darah;
  • Kejang otot. Efek samping hemodialisis selanjutnya adalah kejang atau kram otot akibat kekurangan cairan. Biasanya gangguan ini terjadi di bagian kaki;
  • Gatal-gatal. Tingginya potasium atau kalium di tubuh pasien akan menyebabkan sensasi gatal di tubuh mereka setelah melakukan terapi cuci darah;
  • Susah tidur atau insomnia. Pasien yang menjalani hemodialisis cenderung mudah lelah disebabkan sulitnya tidur atau tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
  • Sakit tulang dan persendian. Terakhir, pasien pun kerap mengeluhkan sakit pada tulang dan persendian mereka yang mengakibatkan kelelahan.


Efek samping terapi cuci darah secara umum


Selain efek samping setelah hemodialisa berdasarkan metode, ada juga dampak-dampak lain yang muncul secara umum, di antaranya:

  • Kelelahan. Pasien yang lelah setelah terapi cuci darah ternyata disebabkan beberapa faktor seperti hilangnya fungsi normal ginjal, efek langsung dialisis terhadap tubuh, hingga pantangan-pantangan yang diajukan sebelum dialisis;
  • Melemahnya kondisi fisik. Pasien biasanya diminta berpuasa atau dilarang mengonsumsi jenis makanan tertentu. Akibatnya, tubuh mereka tidak mendapatkan asupan nutrisi yang mencukupi. Jadi bukan hal aneh bila tubuh pasien cepat lelah selepas menjalani cuci darah;
  • Stres dan cemas. Kondisi mental pasien penyakit ginjal juga biasanya ikut mengalami efek samping. Hal ini masih berkaitan dengan kurangnya asupan nutrisi. Jika dibiarkan terlalu lama, mereka akan mengalami proses pemulihan lebih lama atau malah merusak performa ginjalnya.


Demikian informasi seputar efek samping hemodialisis. Semoga melalui informasi ini pengetahuan Anda seputar terapi cuci darah semakin luas dan membantu saat hendak menghadapi terapi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar